Bart Simpson Fransiska Andriani: Angka

Senin, 26 November 2012

Angka

Ketika aku bertanya, seberapa bebal kah aku?
Berpuluh puluh buku yg tertumpuk ini tetap saja bisu.
Ketika aku mengeluh, betapa bodohnya aku, lembar lembar soal penuh coretan angka dan huruf ini juga tak mau bersuara.
Kemudian hatiku menjerit, ah, apakah aku ini begitu dungu?
Seonggok pena pena itupun tak mau menjawab.
Namun kecemasan, kegelisahan dan kerisauan ini justru yg menjawabnya.
Lihat aku, dan kertas kertas yg dulunya putih tanpa noda.
Harusnya kutorehkan angka angka cemerlang di tiap lembarnya, tapi apa. . .tak jauh dari angka enam yang bertengger di sana.
Lihat map bercover kuning itu, harusnya disana ku ukir angka angka enam yg dicerminkan, bukan enam yg berdiri tegak seperti ini.
Menyesal? Apa yg harus disesali, rasanya tak ada yg perlu disesalkan.
Semua hal saat saat ini hanya berkaitan dengan angka dan otak.
Angka itu proyeksi otakmu.
Nilai itu proyeksi kemampuanku.
Lalu. . .
Dengan angka angka enam.
Dengan nilai enam dan enam.
Apa yg bisa kutanyakan pada otakku? Apalagi yg bisa kuandalkan dari kemampuanku.
Berteriak pun tak ada artinya.
Ya, berteriak saja pada kalender di sudut ruang sana.
Pada angka enam belas yang kamu silang.
Apalagi?
Nantinya juga hanya akan bertanya soal angka.
Nantinya hanya akan berkutat soal nilai.
Berbakti pada orang tua, membalas budi dan kasih sayang mereka angka juga, nilai juga.
Sejenak aku mendengus, menatap buku buku. . .lalu aku melemparkan pandanganku ke kalender itu.
Pantaskah jika enam lagi?
Lagi lagi enam?
Jangan!
Jangan enam.
Lalu aku melempar pandanganku pada seuntai rosario yg tergantung di tembok.
Masih ada harapan ternyata.
doa mengubah segala sesuatu. 
Doa yg akan mencerminkan enamku menjadi bukan enam.
Selama aku percaya, akan memproyeksikan enamku menjadi lebih berarti dari sekedar enam.
:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar