Jika benar itu cinta?
Aku bertahan?
Kamu tidak?
Namun, seberapa mampukah aku menafsirkan bahwa hari-hari yang singkat itu cinta.
Lidahku bahkan terlalu kelu untuk mengatakan bahwa tanggal yang kulingkari spidol merah beberapa tahun lalu itu, ketika aku menyatakan cinta yang sama denganmu.
Rasaku mungkin mengendap, didiamkan terlalu lama, namun tetap sama.
Tetap sama, aku mencintaimu.
Aku yang bodoh ini bahkan tau, bahwa kamu tidak lagi mungkin kembali.
Tapi, sebelum hari itu, setelah hari itu, bahkan hari ini. . .masih saja aku meratapi kamu, bukankah kamu belum mati?
Tapi rasanya, kamu begitu semu, cintamu mati untukku, sedang namamu masih utuh dihatiku.
Ah, seandainya saja kamu tau.
Rasanya seperti dicakar cakar dengan garpu.
Ingin sebenarnya aku tak pernah mengenalmu.
Tapi kamu, bahkan senyumu yang ku simpan bertahun2 lalu kadang masih menamparku, sampai aku tersungkur meratapi betapa dungunya aku mencintaimu.
Tolong. Cabut rasa ini, sampai ke akar2nya, agar mati, agar hilang, agar tidak tumbuh lagi.
Rasa ini seperti kanker dihatiku, tak tampak, menggerogoti dari dalam, lalu membunuhku perlahan.
Maki saja aku.
Caci saja aku.
Toh bukan aku yang INGIN mencintaimu.
Bukan aku yang INGIN.
Apa ini salahku jika aku mencintaimu?
Entah dari mana rasa ini, tiba tiba ada.
Dari Tuhan katanya.
Tapi berkali kali aku berdoa.
"Tuhan, jika memang Engkau mengizinkan aku memilikinya, jika memang dia yg terbaik biarkan rasa ini tumbuh, dan memiliki. Tapi jika tidak, tolong hapus rasa ini."
Dan. . .sampai hari ini, hari yang ke sekian ribu, belum ada titik terang.
Bolehkah aku mencintaimu?
Jika aku pergi, apa bisa aku meninggalkan rasa ini di sini?
Bisakah aku tidak lagi membawa rasa ini?
Atau, aku masih harus membawa rasa ini?
Hah, taukah kamu ini memberatkanku.
Bagiku saat ini, kamu belum menjadi masalalu buatku.
Dan aku masih belum tau, mau jadi apa kamu nantinya?
Karena sampai hari ini aku tak tahu hatimu.
Maka, aku pergi.
Pergi dari 13 MEI 2009
Aku bertahan?
Kamu tidak?
Namun, seberapa mampukah aku menafsirkan bahwa hari-hari yang singkat itu cinta.
Lidahku bahkan terlalu kelu untuk mengatakan bahwa tanggal yang kulingkari spidol merah beberapa tahun lalu itu, ketika aku menyatakan cinta yang sama denganmu.
Rasaku mungkin mengendap, didiamkan terlalu lama, namun tetap sama.
Tetap sama, aku mencintaimu.
Aku yang bodoh ini bahkan tau, bahwa kamu tidak lagi mungkin kembali.
Tapi, sebelum hari itu, setelah hari itu, bahkan hari ini. . .masih saja aku meratapi kamu, bukankah kamu belum mati?
Tapi rasanya, kamu begitu semu, cintamu mati untukku, sedang namamu masih utuh dihatiku.
Ah, seandainya saja kamu tau.
Rasanya seperti dicakar cakar dengan garpu.
Ingin sebenarnya aku tak pernah mengenalmu.
Tapi kamu, bahkan senyumu yang ku simpan bertahun2 lalu kadang masih menamparku, sampai aku tersungkur meratapi betapa dungunya aku mencintaimu.
Tolong. Cabut rasa ini, sampai ke akar2nya, agar mati, agar hilang, agar tidak tumbuh lagi.
Rasa ini seperti kanker dihatiku, tak tampak, menggerogoti dari dalam, lalu membunuhku perlahan.
Maki saja aku.
Caci saja aku.
Toh bukan aku yang INGIN mencintaimu.
Bukan aku yang INGIN.
Apa ini salahku jika aku mencintaimu?
Entah dari mana rasa ini, tiba tiba ada.
Dari Tuhan katanya.
Tapi berkali kali aku berdoa.
"Tuhan, jika memang Engkau mengizinkan aku memilikinya, jika memang dia yg terbaik biarkan rasa ini tumbuh, dan memiliki. Tapi jika tidak, tolong hapus rasa ini."
Dan. . .sampai hari ini, hari yang ke sekian ribu, belum ada titik terang.
Bolehkah aku mencintaimu?
Jika aku pergi, apa bisa aku meninggalkan rasa ini di sini?
Bisakah aku tidak lagi membawa rasa ini?
Atau, aku masih harus membawa rasa ini?
Hah, taukah kamu ini memberatkanku.
Bagiku saat ini, kamu belum menjadi masalalu buatku.
Dan aku masih belum tau, mau jadi apa kamu nantinya?
Karena sampai hari ini aku tak tahu hatimu.
Maka, aku pergi.
Pergi dari 13 MEI 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar