Bart Simpson Fransiska Andriani: Efek Cafein

Minggu, 06 Januari 2013

Efek Cafein


ah, sial gara-gara setengah gelas kopi gue harus melek sampai pagi buta begini.
kurang kerjaan mungkin. siapa sih yang jam 3:30 begini mau buka blog dan nulis entri baru...
tapi what ever lah...
cuma mau iseng aja, cerita tentang seseorang.
ehm...atau tepatnya mereview hari ini.
rainbow after storm...
pelangi sehabis hujan, atau bahkan badai...
itu sekedar menggambarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi bukan terjadi tanpa alasan, alasan selalu indah untuk sebuah perkara...
seburuk dan sesulit apapun perkara itu pada awalnya.
 
untuk menghakimi orang lain rasanya kemarin sudah lebih dari cukup...
sekarang giliran kamu menghakimi dirimu sendiri, ndhuk...
yang masih terekam jelas diingatanku, obrolan ringan tapi berbobot dengan seorang kawan beberapa hari yang lalu, tentang menyayangi...tentang ketulusan.
"keteka kita menyayangi seseorang, Bukankah kita akan menerima apa adanya dia?" jawabnya setelah mendengar cerita ku yang lumayan panjang dn berbelit belit.
"katanya sih iya, tapi jujur ya...ini nggak munafik, untuk menerima sisi negatif orang lain termasuk orang yang kita sayangi sekalipun kadang sulit atau bahkan nggak bisa...iya nggak?"
"iya sih. soalnya yang namanya kita menyayangi seseorang itu pasti menginginkan segala hal yang baik buat dia, segala hal yang lebih baik dan lebih baik lagi buat dia."
"terus, tentang sifat seseorang gimana? apa karena kita sayang jadi kita juga harus menerima apa adanya, sekalipun mungkin itu nggak kita sukai...? feeling gue sih mungkin juga nggak cuma gue yang nggak suka sama karakter dia yang begitu"
"ka, yang namanya karakter, sifat ...itu bukan hal yang mutlak, masih bisa dirubah kok"
"sebenernya gue jadi ngerasa bersalah deh..."
"kenapa?"
"iyalah... secara gue bukan siapa-siapanya dia, terang terangan nggak mau menjalani komitmen apapun sama dia...salah kali ya, kalau gue memperdulikan karakter dia, watak dia yang begitu..."
"justru itu menurut gue bagus kali, artinya lu care sama dia...sebatas care ini nggak apa-apa kali... yaelah segitunya."
"nggak, maksud gue bukan gitu...yang namanya perasaan orang kan ya siapa sih yang tau...who knows lah, takutnya dia salah ngartiin gitu..."
"salah ngartiin gimana, takut dikira ngasih harapan gitu?"
"ya, sebenernya itu juga sih, tapi gue lebih takut kalo dia tersinggung, atau mungkin dia berpikiran...gue siapanya dia ngatur-ngaturlah, banyak komentarlah, apa hak gue buat menilai dia...secara gue bukan siapa-siapanya dia kan?"
"yang namanya care emangnya harus nunggu jadi siapa-siapanya dulu?"
"eheheh ya enggak si...ya mungkin sejauh ini, gue nganggep dia kakak gue mungkin, makanya gue care sama dia. nggak salah kan?
"yaelah, nggak apa-apa kali...justru bagus dong kalo lu peduli sama dia, lu bukan siapa-siapanya tapi mau ngingetin dia buat ngerubah sikap dia yang mungkin kurang bagus"
"ralat ya, gue nggak ada niat buat ngerubah...cuma ngingetin aja, ngasih masukan siapa tahu dengan gitu dia bisa meperbaiki diri"
"iya sih, emang kadang posisi kita sebagai cewek itu nggak menguntungkan, kita telalu khawatir sama penilaian dia, entar kalau kita begini takut dikiranya di kita begitu..."
"nah itu dia..."
"gini deh, lu ubah pola pikir lu...lu pengen dia memperbaiki sikap karena lu pengen dia menjadi orang yang lebih baik lagi, kalau dia emang dewasa dia bakalan menerima kok masukan masukan dari lu, toh itu masukan buat kebaikan dia kok. masalah komitmen, toh dia juga bakalan menghargai perasaan lu, toh dia pasti ngerti kalau yang namanya perasaan itu nggak bisa dipaksain. seandainya nanti ...yang namanya masa depan kan nggak ada yang tau ya, lu akhirnya jadi sama dia...dengan karakternya dia yang udah lebih dewasa, yang lebih baik, lu nggak akan nyesel kan karena sekarang lu berani buat negur dia? kalau kita ngomongin paitnya nih..kelak seandainya dalam perjalanan dia, akhirnya menemukan sosok yang mungkin tepat buat dia (bukan lu), lu juga bakalan bangga... seenggaknya sekalipun lu nggak jadi siapa-siapanya dia lu pasti terharu...ngelihat dia akhirnya bisa bahagia sama orang lain dan setidaknya dia udah jadi seseorang yang lebih baik setelah kenal sama lu ka..."
"iya sih, kalau kegereja, kita kan sering banget ngeliatin  dedek-dedek 'anak masa depan' ...gue sering banget ngeledekin dia biar cari cici cici cantik dan punya anak tembem sipit kayak yang digereja kemaren itu...ya dia orangnya menurut gue baik kok, udah selayaknya dapet yang baik...kayak yang lu bilang, gue pasti seneng.... ketika dia udah lebih baik dan menemukan seseorang yang baik pula. ini prinsip yang selalu gue pegang... Tuhan pasti ngasih jodoh yang baik kalau kita sendiri baik."
hahahaha...kami kahinya ketawa keras setelah obrolan yang cukup kaku itu.
tapi gue masih saja mencerna kata-kata terakhir yang temen gue bilang tadi.

aku berani ngasih masukan biar dia memperbaiki sikap dia karena aku pengen ngelihat dia menjadi orang yang lebih baik lagi, demi kebaikan dia. masalah komitmen, toh dia juga bakalan menghargai perasaanku, yang namanya perasaan itu nggak bisa dipaksakan. seandainya nanti ...Tuhan mengijinkan akhirnya aku sama dia...ya puji Tuhan karakternya dia udah jadi lebih dewasa, lebih baik, dan aku nggak akan nyesel karena berani meniali dia, negur dan ngsih masukan buat sifat dia sekarang.
kalaupun kelak seandainya dalam perjalanan hidupnya dia akhirnya menemukan sosok yang mungkin lebih tepat buat dia justru itu akan jadi kebahagiaan tersendiri buat aku... sekalipun aku nggak jadi siapa-siapa buat dia seenggaknya setelah dia kenal sama aku dia menjadi seseorang yang lebih baik. Tuahn pasti udah mengatur ini semua sesuai rencana-Nya kok...

someone who really care about you...
will not afraid to give you a slap.
to make you understand that you make mistakes
to make you mind to change and never do the same mistake
to make you be better...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar