Bart Simpson Fransiska Andriani: Benarkah menunggu itu hanya akan sia-sia saja akhirnya?

Minggu, 31 Maret 2013

Benarkah menunggu itu hanya akan sia-sia saja akhirnya?

Benarkah menunggu itu hanya akan sia-sia saja akhirnya?
Entahlah...
Menunggu jelas bukan hanya hal yang melelahkan, bahkan kadang membuat kita terluka juga kan?
Sebenarnya bukan dia yang melukaimu, tapi perasaanmu sendirilah yang yang melukaimu.
Ya, bukan salahnya, karena dia tak pernah tahu -atau bahkan tak mau tahu- kamu menunggunya.
 Kadang menunggu itu bukan hanya karena menunggu kapan dia kembali ketika saat ini dia pergi, bukan saja menunggu kapan dia putus ketika saat ini dia pacar, atau menunggu kapan dia mengungkapkan perasaannya ketika kamu merasa dekat dengannya saat ini.
Jauh dari itu atau bahkan , ada mungkin yang menunggu tanpa sebuah gambaran ending yang jelas...
Banggalah anda ketika Anda menjadi tipe orang yang seperti ini, karena dapat dibaca karakter Anda, Anda adalah orang yang kuat.
Mengapa demikian?
Sering kita dengar kalimat klise "mengalirlah, ikuti kata hatimu" ini termasuk tentang mencintai seseorang.
Kadang bahkan kita sampai tidak tahu sejak kapan kita mulai menaruh hati kita padanya, kadang kitapun tidak tahu kapan rasa itu berakhir atau akan berakhir atau tidak.
Jangankan berpikir tentang ending yang akan kita peroleh nantinya, bahkan bisa jadi kita sendiri tidak mengerti kenapa kita bisa meletakkan hati kita pada seseorang yang kita tidak tahu apakah tepat atau tidak.
Mungkin juga kita tidak sedang dekat dengannya, tau bahkan tidak dekat sama sekali,
Bisa jadi kita sama sekali tidak tertarik secara fisikly juga.
Atau juga kedekatan pribadi ataupun emosionalpun sangat-sangat kecil prosentasenya.
Lalu kita bertanya, kenapa aku harus suka sama kamu? kenapa aku harus menunggu kamu? kenapa setelah ada kamu di hatiku aku tiba-tiba memutuskan untuk menutup hati bagi yang lain?
It's OK, ya beitulah cinta... selalu irasional, bahkan kadang sama sekali tidak bisa di jelaskan ketika berhadapan dengan pertanyaan mengapa.
Dan puncak kelelahan kita adalah ketika kita mulai bertanya-tanya.
Sia-siakah aku menunggumu? Apakah kamu merasakan hal yang sama? Kenapa sulit sekali menjalin komunikasi yang baik denganmu? Apakah perasaanku hanya akan sia-sia saja?
Kita hanya akan terus terbayang-bayang bahwa cinta yang bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan. Perasaan kita hanya akan sia-sia saja jika tidak berbalas. Dan semua hal yang kita lakukan untuknya tidak akan ada artinya sama sekali ketika
dia tidak merasakan hal yang sama.
Mungkin kita berpikiran bahwa mencintai itu haruskah terjadi hubungan timbal balik yang seimbang "Aku memberi-kamu menerima, kamu memberi-aku menerima"
Tapi cinta itu bukan seperti perbankan, kita menabung mendapatkan bunga-kita meminjam kita dikenai bunga.
Itulah mengapa Tuhan menciptakan apa yang sering kita sebut dengan 'ketulusan'.
Ketulusan adalah jawaban untuk semua yang kita lakukan saat ini.
Ketika kita merasa bahwa IQ kita tidak cukup rendah untuk berpikir bahwa mengharapkannya adalah hal yang sia-sia, tapi hati kita masih saja tidak sepaham maka tersenyumlah, katakan pada diri kita sendiri bahwa ini apa yang disebut dengan ketulusan.
Kadang mungkin memang perbedaan antara DUNGU dan TULUS itu bisa jadi sangat tipis, tapi jangan khawatir, yang bisa membedakan yang mana yang dungu yang mana yang tulus itu bukan orang pintar tetapi orang yang baik.
Maka percayalah, ketika kita memutuskan untuk bertahan pada apa yang kita rasakan, apa yang kita harapkan itu artinya kita mengikuti kata hati kita.
So, whats wrong ketika kita mengikuti kata hati?
Kata hati... Hati nurani itu satu-satunya aset yang kita punya saat logika kita overload buat berpikir hal-hal yang berat.
Hati dan otak punya kapasitasnya masing-masing, tidak semua hal harus di pertimbangkan dengan otak.
Mungkin bertahan dengan alasan 'ketulusan' itu kesannya kita seperti orang yang tidak realistis.
ibarat "nguyahi segara" ya, seperti memberi garam lautan yang sudah asin, tampaknya mungkin seperti sia-sia.
Tapi satu hal yang harus kita pegang teguh, bahwa ketika kita mengatasnamakan ketulusan (selama ini positif) kita tidak akan mengenal sia-sia.
Ketika kita terbentur pada hal-hal yang kadang membuat kita berpikir untuk menyerah, sadar atau tidah hati kita selalu berbisik untuk bertahan.
Biarkan saja perasaan kita seperti keadaan kita, sudah seperti itu seharusnya, seandainya ada kemungkinan untuk mengubahnya, itu sama samarnya kan dengan kita bertahan, sama-sama ber-ending tak pasti juga.
Kita hanya cukup percaya Tuhan menyiapkan rencana di balik setiap perkara yang sanggup kita lewati.
"Wong sing jejeg, bakal ngunduh wohing pakarti"
Oran yang teguh pada pendiriaannya akan belajar tentang makna kehidupan.

Jika benar kita sedang bimbang saat ini, tanyakan kata hati ... apa yang sebenarnya hati kita mau...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar