Bart Simpson Fransiska Andriani: Betapa Berartinya Kaki

Kamis, 11 April 2013

Betapa Berartinya Kaki


Kaki...
Kadang kita sampai lupa apa sebenarnya fungsi kaki kita.
Atau bahkan lupa kalau kita punya kaki.
Kenapa? Dengan semakin pinternya orang-orang di dunia ini, maka alat-alat dan teknologi yang memeperkecil fungsi kaki juga semakin merajalela.
Yah, kalau jaman dulu orang jalan kaki sekarang bahkan alat transportasi yang orang sebut mobil semakin banyak spesiesnya, tinggal kita pilih mau naik yang mana. dari bajaj sampai limusin (itu lhoo mobilnya Obama yang sama kayak punya Uya kuya -eh, atau kebalik ya-), mau naik becak, sepeda, motor... what ever you want pokoknya.
Teknologi seperti lift, eskalator juga bikin kaki kita males dan lupa sama tugas utamanya kenapa Tuhan dulu nyiptain dia (kaki maksud gue).
Jauh dari benda-benda ciptaan manusia yang semakin hari semakin irasional, orang jaman dulu masih memanfaatkan kaki mereka semaksimal mungkin, musafir yang menjelajah negara dengan jalan kaki misalnya -sebenernya menurut gue itu cenderung nyiksa kaki sih-
Ok, kembali ke topik.
Gue pengen bicara kenapa buat gue kaki itu berarti banget.
Saat ini, gue ngerasa kalau kaki gue berarti banget.
Yah, sebelum gue punya penyakit nyebelin ini.
Radang sendi.
Jaman SMA gue emang agak kakean polah terlalu banyak bertingkah.
Salah satunya gue iseng-iseng ikut ekskul basket. Yah, gambran gue, basket itu simple, sekedar dribble bola lalu masukin ke ring, udah. Selain itu gue bener-bener terobsesi buat nurunin berat badan gue yang waktu itu hampir mendekati setengah kuintal.
Ternyata buat dribble bola dan masukin ke ring, nggak sesimple yang gue pikir, gue dapet dua semester ikut latihan basket seminggu tiga kali di lapangan sekolah, sampai akhirnya gue kenal apa itu follow through, ofence, defence dan kawan-kawannya, hasilnya sih lumayan, gue ngga oon-oon banget selama latihan, sekalipun gue nggak masuk team.
Coachnya emang lumayan extreme dan pertama kali gue serius tepar abis latihan pertama gue. Bener-bener fisik gue didrill parah.
kebayang kan buat pemanasan harus lari 20 kali keliling lapangan basket dan itu sprint. Belum lagi squat jump, push up dan penderitaan otot lainnya.
Tapi gue bahagia, penderiataan-penderitaan gue itu nggak sia-sia, bentuk badan gue paling kece ya pas gue ikut basket, jangan bandingin deh sama sekarang.
Sejak gue ikut basket gue jadi sadar sama kesahatan gue, gue mulai atur pola makan, gue sampai minjem skipping pacar gue dulu (pokoknya jangan dibaca mantan pacar, gue nggak suka) jadi rajin jogging keliling alun-alun dan itu ajaib banget, seorang Iska? Jogging? Amazing!
Tapi ending yang burukpun akhirnya dateng, badan gue mungkin udah nyerah buat dapet perlakuan nggak manusiawi dari gue. Sampai akhirnya tiba-tiba pinggul gue sakit buat di gerakin.
Gue disaranin buat ke dokter spesialis syaraf dan alhasil gue divonis kena radang sendi, radang sendi BUKAN rematik lho ya.
ya, gue inget pagi-pagi gue berangkat sekolah harus meringis kesakitan cuma buat naik anak tangga teras sekolah yang jumlahnya empat biji, sampai gue dipapah-papah, sumpah malu banget.
Belum lagi gaya jalan gue yang megangin boyok, jadi terkesan kayak simbah-simbah yang sakit pinggang.
Tiap sakit gue lari ke dokter, di kasih obat, lalu beberapa bulan kambuh lagi, begitu seterusnya, bahkan sampai hari ini.
Jujur gue capek, tapi karena ini gue jadi sadar betapa berartinya kaki buat hidup gue. Gue jadi kebayang mereka yang nggak diberi kaki sama Tuhan.
Satu hal lagi yang bikin gue tambah bersyukur.
Suatu hari, kalau nggak salah waktu itu bulan-bualan Oktober, masih baru-barunya gue jadi maba di kampus, ada satu temen kuliah agama gue yang terpaksa cuti gara-gara kecelakaan.
Gue dengar sih kakinya patah, jadi dia nggak bisa kuliah.
Sampai akhirnya dia operasi, lalu gue ngajak temen-temen gue buat jenguk dia.
keadaanya jauh dari yang gue gambarkan, mungkin gara-gara gue kebanyakan nonton film FTV jadi suka parno.
Dari rumah sih gambaran gue dia terbaring nggak berdaya dan hampir menyerah pada kakinya. Tapi tenyata mendekati gambaran gue sedikitpun enggak.
Waktu gue masuk ruangan tempat dia dirawat emang yang pertama gue jumpai muka nyokapnya yang kelihatan capek jagain dia.
Tapi yang gue salut sama dia, sama sekali nggak ada tulisan satu hurufpun di jidatnya yang menyiratkan dia seperti ingin menyerah.
Bahkan itu kali pertama dia ketemu gue dan temen-temen gue, dia yang terbaring nggak berdaya itu masih bisa ngebanyol dengan polosnya.
Dengan lugunya dia ngebuka selimutnya nunjukin perban yang membalut kaki dia yang patah, alhasil kami yang berempat cewek semuapun menjerit, karena dia ternyata nggak pake celana.
(Please jangan jorok, kami cuma liat kakinya doang -_- lho)
Di wajahnya nggak begitu banyak menggambarkan muka-muka orang frustasi sama sekali, dia malah pamerin selang pispotnya, selang transfusi darah, selang infusnya jadi lelucon buat kami.
Beberapa bulan setelah itu, dia sms kalau semester dua mau mulai kuliah.
Ya, gue bisa kenal dia sedikit banayak lewat twitter, kadang suka mentionan nggak jelas emang.
Pertama gue ketemu dia setelah di rumah sakit itu, waktu kuliah agama pertama dimulai. Dia sms gue, minta dijemput di lapangan buat masuk kelas bareng.
Gue bahkan cuma bisa mangap speechless, gue kira dia beneran udah sembuh makannya dia kuliah. Ternyata?
Dia turun dari mobil, jalan tertatih-tatih dengan tongkatnya.
Belum dia cerita kalau tiap hari dia harus kuliah di lantai tiga.
Jangan harap ada lift eskalator atau bahkan permadaninya Alibaba, dia ke lantai tiga jalan kaki - ralat, jalan kaki dengan tongkatnya-
Pertama gue ngelihat cara dia jalan, bener-bener gue pengen ngesot-ngesot di tengah lapangan terus nangis sekenceng-kencengnya.
Serius, gue salut banget sama lo, Bro.
Salut buat kegigihan dan semangat lo.
Gue bahkan sekarang janji sama diri gue sendiri, gue nggak akan nangis sedikitpun sekalipun tiba-tiba gue bangun dan kaki gue sakit kayak biasanya, dan harus bersusah payah cuma buat bangun dari tempat tidur dan berdiri.
Makhluk yang sedang berkaki empat itu bener-bener bikin gue salut!
"Your leg may broken, but your dream and your spirit...NEVER!

THANKS FOR INSPIRED ME :)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar