Mungkin nanti.
Apa itu jawaban?
Apa itu harapan?
Salahkah jika aku menganggapnya jawaban?
Salahkah jika aku tetap berharap?
Mungkin aku berharap kamu bilang "ya".
Tapi mungkin jauh lebih baik jika kamu bilang saja "tidak".
Bodoh, aku membiarkanmu mengatakan "mungkin nanti".
Aku jadi merasa bersalah.
Ya, merasa bersalah atas perasaanku.
Andai saja, aku tak pernah menyukaimu.
Mengapa aku harus diam2 menyayangimu?
Bahkan itu sejak lama.
Ya, menyesakkan memang, jika aku tetap diam.
Diam tanpa membiarkan kamu tahu apa yg aku rasakan sebenarnya.
Tapi mungkin jauh lebih baik aku yang diam sekalipun itu sangat menyakitkan.
Karna sekarang aku merasa tak ada artinya jika kamu yang diam.
Taukah kamu, diam mu itu membunuhku pelan pelan?
Dan, menunggu "mungkin nanti" mu itu sungguh melelahkan.
Aku tak pernah lelah menyangimu.
Bahkan menyadari rasa ini ternyata tumbuh, buatku seperti keajaiban.
Karena menyayangimu, meskipun diam diam, ternyata seperti hal baru bagiku.
Ibarat hatiku adalah tanah,
Apa itu jawaban?
Apa itu harapan?
Salahkah jika aku menganggapnya jawaban?
Salahkah jika aku tetap berharap?
Mungkin aku berharap kamu bilang "ya".
Tapi mungkin jauh lebih baik jika kamu bilang saja "tidak".
Bodoh, aku membiarkanmu mengatakan "mungkin nanti".
Aku jadi merasa bersalah.
Ya, merasa bersalah atas perasaanku.
Andai saja, aku tak pernah menyukaimu.
Mengapa aku harus diam2 menyayangimu?
Bahkan itu sejak lama.
Ya, menyesakkan memang, jika aku tetap diam.
Diam tanpa membiarkan kamu tahu apa yg aku rasakan sebenarnya.
Tapi mungkin jauh lebih baik aku yang diam sekalipun itu sangat menyakitkan.
Karna sekarang aku merasa tak ada artinya jika kamu yang diam.
Taukah kamu, diam mu itu membunuhku pelan pelan?
Dan, menunggu "mungkin nanti" mu itu sungguh melelahkan.
Aku tak pernah lelah menyangimu.
Bahkan menyadari rasa ini ternyata tumbuh, buatku seperti keajaiban.
Karena menyayangimu, meskipun diam diam, ternyata seperti hal baru bagiku.
Ibarat hatiku adalah tanah,
tentunya sangat gersang kering dan tak ada kehidupan.
Terlalu berlarut larut dengan kekecewaan,
Terlalu berlarut larut dengan kekecewaan,
luka dan rasa yang sia-sia dalam waktu cukup lama.
Sepertinya sulit untuk tumbuh rasa disana.
Tapi tidak denganmu, rasaku tetap bertahan dan hidup, bahkan tumbuh.
Ingin kubunuh rasaku.
Tapi seperti belukar yang akarnya menghujam dalam.
Jika ditebang justru akan tumbuh semakin banyak cabang.
Seperti halnya rasaku, semakin aku mencoba mengingkarinya,
Sepertinya sulit untuk tumbuh rasa disana.
Tapi tidak denganmu, rasaku tetap bertahan dan hidup, bahkan tumbuh.
Ingin kubunuh rasaku.
Tapi seperti belukar yang akarnya menghujam dalam.
Jika ditebang justru akan tumbuh semakin banyak cabang.
Seperti halnya rasaku, semakin aku mencoba mengingkarinya,
semakin aku tahu bahwa rasa ini hanya akan semakin dalam.
Maka, tinggalah di hatiku jika memang ada rasa yang sama dengan ku.
Dan katakanlah YA.
Atau mungkin katakan saja TIDAK,
lalu tampar aku,
caci maki aku bila perlu,
agar aku bangun,
agar aku benar2 pergi darimu.
Tapi tolong.
Aku mohon.
Jangan biarkan aku terus bertanya kapan itu "mungkin nanti"?
Karna aku tak tahu sampai kapan aku mampu berdiri.
Jangan biarkan aku menunggu "mungkin nanti" mu itu.
Jadilah aku,
pakailah hatiku,
agar kamu tau, agar kamu mengerti rasaku.
Yang kamu balas dengan. . .
Mungkin nanti.
Maka, tinggalah di hatiku jika memang ada rasa yang sama dengan ku.
Dan katakanlah YA.
Atau mungkin katakan saja TIDAK,
lalu tampar aku,
caci maki aku bila perlu,
agar aku bangun,
agar aku benar2 pergi darimu.
Tapi tolong.
Aku mohon.
Jangan biarkan aku terus bertanya kapan itu "mungkin nanti"?
Karna aku tak tahu sampai kapan aku mampu berdiri.
Jangan biarkan aku menunggu "mungkin nanti" mu itu.
Jadilah aku,
pakailah hatiku,
agar kamu tau, agar kamu mengerti rasaku.
Yang kamu balas dengan. . .
Mungkin nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar