Bart Simpson Fransiska Andriani: teantang aku, kamu dan Tuhan

Sabtu, 10 November 2012

teantang aku, kamu dan Tuhan


setiap pagi-pagi buta disudut bangku depan gereja...
disana, dia selalu berlutut
dengan air mata deras mengalir dari pelupuk matanya yang terpejam dalam hening doanya
dan dalam doanya ia selalu bertanya
"Tuhan, kenapa harus terjadi seperti ini di hidup saya?
ini terlalu berat, saya belum siap untuk kehilangan (lagi)
dan kenapa harus dengan cara seperti ini?"
ia tertunduk, termenung...
selalu saja, seperti itu dalam jangka waktu cukup lama
menikmati lagu-lagu yang terlantun
mendengarkan doa-doa
sekedar melarikan diri dari penatnya hati..
menenangkan jiwa yang ingin mati
menguatkan raga yang serasa tak sanggup lagi berdiri
dalam doanya ia berkeluh kesah..
"Tuhan, aku tidak ingin, kelak hal seperti ini terjadi lagi...ini sudah cukup membuatku terpuruk
biarkan aku belajar dari apa yang aku alami ini.
aku percaya, bahwa segala perkara yang terjadi saat ini, terjadi bukan tanpa alasan
biarkan aku terluka seperti ini, Tuhan
"Tuhan, aku tidak ingin, kelak hal seperti ini terjadi lagi...ini sudah cukup membuatku terpuruk
biarkan aku belajar dari apa yang aku alami ini.
aku percaya, bahwa segala perkara yang terjadi saat ini, terjadi bukan tanpa alasan
biarkan aku terluka seperti ini, Tuhan tapi biarkan luka ini menjadikanku lebih kuat
biarkan aku kecewa seperti ini, Tuhan tapi bukalah mata dan hatiku agar aku melihat apa sebenarnya yang Engkau inginkan
aku mau Tuhan, melewati ini, tapi tolong Engkau kuatkan aku melewati ini
aku sanggup Tuhan melalui ini, tapi tuntun aku agar apapun keputusan yang aku ambil seturut kehendak-Mu
apapun perbuatan yang aku lakukan sesuai rencana-Mu.”
Setiap hendak ingin tidur… ia menyeka air matanya.
“Biarlah Tuhan, …aku kembali mengingat hari-hari indah kemarin, membuat hari ini berat untuk aku lewati, tapi inilah yang akan memupuk ketegaran imanku, bahwa aku mencintainya sungguh-sungguh tidak lebih dari Engkau, aku percaya bahwa Tuhan memang hanya satu, Engkau, namun karena Engkau disembah dengan berbagai cara, maka biarlah seandainya karena perbedaan cara kami menyembah-Mu maka Engkau memisahakan kami…maka tambahlah ketegaran dalam hatiku, untuk mengerti ini semua baik untukku dan untuknya. Aku yakin Engkau jauh mengerti apa yang terjadi padaku saat ini, Engkau yang lebih memahami hatiku, biarlah cinta ini tetap tumbuh Tuhan, cinta yang benar-benar menjadi sebuah ketulusan, cinta yang hanya mengharap kebahagiaanya saja. Ajar aku mengerti bahwa memang kami tidak lagi mungkin bersama, kami tidak ingin orang-orang disekitar kami semakin banyak yang terluka, terutama ibu kami. Aku sungguh-sungguh emnyayanginya Tuhan, ketika tangan ini mungkin tidak lagi bisa bergandengan lagi, aku percayakan dia kedalam tangan kasih-mu jagalah ia Tuhan, biarlah ia tetap menjadi pribadi yang baik, sesuai yang Engkau kehendaki."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar