Matahari terbenam.
sekilas teringat, menyaksikannya di tepi pantai bersama gemuruh ombak dan semilir angin. . .
Indah sepertinya.
sekarang bukan!
di sudut halaman belakang, bersama bunyi serangga2 kecil menyambut senja, dan udara dingin yg menusuk2 tulang dan raga.
sinar oranye yg tergambar sayu menembus rimbunnya pohon2, meningatkanku sekilas tentang aku saat ini, yg redup seperti sinar itu.
si matahari masih tampak disana. . .menjadi pemisah antara bukit dengan langit berlembayung senja.
sinarnya menyapaku, mengajaku untuk segera pergi dari segala kepenatan dan kegalauan hati ini.
Matahari masih menunggu ujung barat sana, seperti memberiku isyarat . .bahwa aku harus kuat menghadapi datangnya gelap.
Matahari itu masih bertengger disana, di perbatasan antara siang dan malam. . .memberiku keyakinan bahwa hidup juga berotasi, tak selamanya aku harus terpuruk teraniaya perasaan seperti ini aku harus yakin bahwa semuanya akan segera berganti.
Segaris demi segaris sinar itu mulai terganti dengan garis garis gelap. . .
Aku melepas seberkas demi seberkas rasa sakit ini, membiarkanya hilang perlahan. . .
satu detik, satu menit. . .sinar itupun semakin samar kemudian pudar, dan keterpurukan ini ku biarkan memudar bersama sinar itu.
Matahari itu perlahan lenyap, menghilang diantara bukit bukit hijau, yg perlahan warnanya mulai temaram. . .
matahari itu mengajariku untuk menyambut malam dengan gigih dan tegar, penuh keyakinan bahwa masih ada hari esok untuk kembali bersinar.
Matahari di ufuk sana adalah batas waktu. . .waktu yg senantiasa bergulir mengikutiku.
Aku yakin matahari itu lebih tau, lebih mengerti tentang arti sakit dan terpuruknya hidup dalam kegelapan, tentang arti kesendiriian, tentang arti perjuangan dan pengorbanan, kesetiaan. . . bersama waktu.
Mengerti lebih dari yg ku tau. Mengerti lebih dari yg aku pahami. Memahami lebih dari yg kurasakan saat ini.
Aku lepas semua rasa ini pelan-pelan. . .rasanya ditinggalkan begitu saja, rasanya dibohongi, rasanya tak dihargai, rasanya disakiti, rasanya ingkari, rasanya dicacimaki, rasanya terganti. . .
Sakitnya hati ini, kecewanya rasa ini, terpuruknya hidup ini.
Hati ini menjerit, memberontak nuraniku. . .air mata ini mengucur, lutut ini tersungkur.
Suara mbah uti menyadarkanku "Ndhuk, surup surup ojo nang njobo, gek mlbu, ora ilok."
aku tersenyum kecil. . .
matahari, terimakasih melegakan hatiku senja ini.
Biarkan aku tenggelam bersama matahari dalam gelapnya malam ini meratapi kegelapan sisi hatiku.
Biar esok aku bangun lagi. . .bangun dari semua ini.
#senja 8 Desember 2011
belakang rumah
sekilas teringat, menyaksikannya di tepi pantai bersama gemuruh ombak dan semilir angin. . .
Indah sepertinya.
sekarang bukan!
di sudut halaman belakang, bersama bunyi serangga2 kecil menyambut senja, dan udara dingin yg menusuk2 tulang dan raga.
sinar oranye yg tergambar sayu menembus rimbunnya pohon2, meningatkanku sekilas tentang aku saat ini, yg redup seperti sinar itu.
si matahari masih tampak disana. . .menjadi pemisah antara bukit dengan langit berlembayung senja.
sinarnya menyapaku, mengajaku untuk segera pergi dari segala kepenatan dan kegalauan hati ini.
Matahari masih menunggu ujung barat sana, seperti memberiku isyarat . .bahwa aku harus kuat menghadapi datangnya gelap.
Matahari itu masih bertengger disana, di perbatasan antara siang dan malam. . .memberiku keyakinan bahwa hidup juga berotasi, tak selamanya aku harus terpuruk teraniaya perasaan seperti ini aku harus yakin bahwa semuanya akan segera berganti.
Segaris demi segaris sinar itu mulai terganti dengan garis garis gelap. . .
Aku melepas seberkas demi seberkas rasa sakit ini, membiarkanya hilang perlahan. . .
satu detik, satu menit. . .sinar itupun semakin samar kemudian pudar, dan keterpurukan ini ku biarkan memudar bersama sinar itu.
Matahari itu perlahan lenyap, menghilang diantara bukit bukit hijau, yg perlahan warnanya mulai temaram. . .
matahari itu mengajariku untuk menyambut malam dengan gigih dan tegar, penuh keyakinan bahwa masih ada hari esok untuk kembali bersinar.
Matahari di ufuk sana adalah batas waktu. . .waktu yg senantiasa bergulir mengikutiku.
Aku yakin matahari itu lebih tau, lebih mengerti tentang arti sakit dan terpuruknya hidup dalam kegelapan, tentang arti kesendiriian, tentang arti perjuangan dan pengorbanan, kesetiaan. . . bersama waktu.
Mengerti lebih dari yg ku tau. Mengerti lebih dari yg aku pahami. Memahami lebih dari yg kurasakan saat ini.
Aku lepas semua rasa ini pelan-pelan. . .rasanya ditinggalkan begitu saja, rasanya dibohongi, rasanya tak dihargai, rasanya disakiti, rasanya ingkari, rasanya dicacimaki, rasanya terganti. . .
Sakitnya hati ini, kecewanya rasa ini, terpuruknya hidup ini.
Hati ini menjerit, memberontak nuraniku. . .air mata ini mengucur, lutut ini tersungkur.
Suara mbah uti menyadarkanku "Ndhuk, surup surup ojo nang njobo, gek mlbu, ora ilok."
aku tersenyum kecil. . .
matahari, terimakasih melegakan hatiku senja ini.
Biarkan aku tenggelam bersama matahari dalam gelapnya malam ini meratapi kegelapan sisi hatiku.
Biar esok aku bangun lagi. . .bangun dari semua ini.
#senja 8 Desember 2011
belakang rumah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar