Bart Simpson Fransiska Andriani: Analogi Poni dan Kehidupan

Senin, 26 November 2012

Analogi Poni dan Kehidupan

Poni.
Nggak ada yg istimewa memang.
Tapi menjadi bagian dari aku dan hidupku selama ini.
Yah, aku dan poniku.
Nggak ada yg berubah.
Apapun itu, nggak ada yg akan mengubah simbiosis ini.
Aku sendiripun enggak.
Siapa bilang poni simbol kedewasaan?
Bukan.
Aku tumbuh dan dewasa bersama poni ini.
Kedewasaan dilihat dari sikap, perilaku, polapikir dan ketegaran hati menghadapi hidup.
Nggak ada hubungannya dengan poni.
Kata siapa orang berponi nggak bisa jadi diri sendiri?
Aku bisa.
Poni ini mengajariku untuk menjadi diriku sendiri, menunjukkan inilah aku dan poniku.
Kata siapa poni cuma bikin gerah?
Wah, pasti belum tau leganya potong poni habis patah hati.
Siapa bilang orang berponi nggak bisa jaga penampilan?
Pasti belum tahu gimana rasanya nge-roll poni tiap pagi.
Terus kenapa, kalau pake poni kaya anak kecil?
Anak kecil selalu tampil apa adanya, nggak dibuat-buat, polos, jujur dengan wajah inocent bersama poninya.
Aku suka.
Nggak ada yg perlu berubah atau diubah.
Aku tetap aku dan ini poniku.
Yg nggak bisa terima poniku. . .
artinya dia nggak bisa terima apa adanya aku.
Kelebihan, kekuranganku.
Apa yang salah dengan poni?
Nggak ada.
Ini aku. Ini poniku.
Aku akan tetap jadi aku.
Aku yg dulu, aku yg sekarang.
Aku dan poniku.


:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar