Bart Simpson Fransiska Andriani: BONEKA KELINCI HIJAU

Kamis, 16 Mei 2013

BONEKA KELINCI HIJAU

Aku masih ingat waktu itu, umurku masih sekitar lima tahun.
Aku berlari-lari kecil ke halaman depan rumah menyambut Mas kesayanganku yang baru datang dari Bandung.
Ditangannya tampak menenteng sesuatu, perlahan aku mendekat, lalu dengan senyum kecil ia mengulurkan sebuah boneka kelinci berwarna hijau, aku memungut boneka itu lalu memeluknya erat, seperti Masku yang kemudian menggendong dan memelukku sama eratnya.
Ya, Masku itu namanya Mas Dodo. Entah karena apa, aku mersasa bahwa ia adalah sosok kakak buatku.
Ia anak tunggal dari kakak Ibuku, entah kandung atau bukan entah darah darimana atau dari siapa, yang aku tahu dia Masku.
Aku tumbuh sebagai gadis kecil yang mendapat banyak kasih sayang dari semua orang, aku merasa bahwa masa kecilku adalah segalanya "My childhood is my best time I ever had" masa kecilku adalah masa dimana aku mengenal semua orang sebagai saudara.
Aku memang tidak tumbuh bersama Mas Do, selisih usia kami hampir duapuluh tahun, dan di masa kecilku kami tidak bersama karena Mas Do sekolah diluar kota, dan kemudian lama bekerja di Bandung. Selama Mas Do tidak di rumah, akulah yang menggantikan posisinya, Mas Do adalah anak tunggal sehingga saat ia pergi ke luar kota orang tuanya, yaitu Pak Dhe dan Bu Dhe ku hanya tinggal berdua, disitulah aku mendapat kasih sayang seorang Bu Dhe yang luar biasa.
Sampai waktu itu aku memanggil Bu Dhe dengan sebutan Mamak. Setidaknya waktu itu aku tahu rasanya menjadi seorang anak tunggal.
Sampai akhirnya mungkin ia jenuh lalu kembali ke rumah.
Mas Do adalah cucu kesayangan Mbah Kakung, 'Bagong' panggilan kesayangannya. Sama halnya denganku, aku juga munggkin cucu kesayangannya 'Gendhuk' biasanya Mbah Kakung memanggilku.
Aku melewati masa-masa sekolah dasar bukan dengan orang tuaku, status di administrasi sekolah simbahkulah yang menjadi wali buatku.
Ketika anak-anak seusiaku  melewati masa-masa pendidikan informalnya di rumah bersama orang tuanya, aku bahkan menjadi anak yang beruntung mendapat pendidikan dari keluarga besar, hampir semua orang dikeluarga kami.
Dari Mas Do aku belajar banyak hal, aku selalu dapat tersenyum lebar ketika PRku dapat aku kerjakan dengan sempurna dan saat dikoreksi di sekolah benar semua. Tapi itu tidak kudapatkan dengan cuma-cuma, untuk ukuran anak SD kelas IV, mengerjakan PR dari Magrib sampai jam sebelas malam itu bukan hal yang enteng, Tapi begitulah Mas Do, memang selalu mendidik dengan keras.
Namun sekarang ahsilnya banyak yang aku rasankan.
Masuk SMP, waktu itu usia Mbah Kung sudah cukup lanjut sehingga terpaksa Mas Do yang jadi wali murid saat aku masuk SMP.
Aku masih ingat betul waktu itu, dari mulai pendaftaran antri di loket pendaftaran, aku hanya sedikit trenyuh memandangi teman-teman lain diantar kedua orang tua mereka, tapia setidaknya aku masih tersenyum sedikit lega, disamping aku mengantri masih ada Mas Do dengan gayanya yang sok cool menemaniku.
Masa-masa SMP adalah masa yang mulai terasa keras buatku, masa ketika aku benar-benar mulai meperhitungkan sisi akademisku disekolah. Waktu itu aku beruntung bisa masuk SMP favorit, tapi dengan konsekunsi harus mati-marian mempertahankan peringkat. Ya, seperti orangtua pada umumnya selalu mengukur kemampuan anaknya dari peringkat atau rangking yang diraihnya.
Tapi Mas Do dengan setia menjadi guru les ku dengan cuma-cuma. Tapi setidaknya itu terbayar dengan baik, setiap ia mengambilkan rapor semesterku setidaknya ia dapat tersenyum puas. Aku masih ingat betul, waktu itu penerimaan pengumuman hasil Ujian Nasional SMP, ketika semua orang tua murid berprestasi dipanggil untuk menerima penghargaan, aku hanya menggandeng tangan Mas Do untuk maju ke podium. Saat itulah aku mulai merasa bahwa Mas Do adalah Kakak multifungsi buatku, kakak sekaligus orangtua.
Masa SMA juga tak jauh berbeda, dari pendaftarapun lagi-lagi Mas Do yang ambil bagian, dan lagi-lagi aku beruntung masuk sekolah favorit lagi, hanya saja kelasnya agak naik, aku sekolah di lingkungan pemda, secara tidak langsung anak-anak yang sekolah di sekolahku itu juga tidak jauh-jauh dari anak-anak pegawai pemda, sementara aku?
Lagi-lagi aku merasa bahwa sosok Mas Do adalah Kakak yang merangkap orang tua buatku, benar atau tidak, pengambilan rapot adalah hal yang paling krusial buat seorang anak, aku ingat waktu itu, kenaikan kelas XI, penjurusan kelas, disaat anak-anak lain sedang bereuforia dengan kelas IPA atau IPSnya bersama orangtuanya, aku juga hanya menagis terharu memeluk Mas Do karena berhasil masuk IPA.

Bukan hanya di pelajaran saja aku banyak berhutang dengannya, kehidupan menggerejaku juga aku dapatkan kurang lebih darinya. Awalnya aku hanyasering ikut-ikut saat Mas Do ada acara di gereja bersama Mudika waktu itu aku masih SD, aku masih ingat betul pulang jam 2 malam dari gereja, aku tertidur pulas di sangkristi sementara Mas Do membuat gua natal.
Dari situ lama-kelamaan aku mulai aktif di misdinar, PIR dan sampai sekarang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar