God brought us together for a reason.
-Lorraine Warren-
Takdir. Destiny.
Apakah masih harus percaya hal itu sampai saat ini?
Aku setuju dengan apa yang orang katakan.
"Di balik sebuah pertemuan pasti ada perpisahan."
That is true.
Tapi aku berani berargumen lain setelah statement itu.
"Setelah sebuah perpisahanpun bukan hal yang mustahil akan ada pertemuan lagi."
Dan Tuhan selalu punya cara untuk mengatur itu semua sebagaimana mestinya sehingga terlihat indah pada waktunya.
Dan aku juga selalu memiliki harapan yang sama ketika waktu itu setiap sore rutin nonton drama Korea Endless Love (Autumn in My Heart).
Eun Suh dan Joon Suh yang waktu kecil terpisah namun akhirnya bertemu kembali ketika mereka dewasa.
Juga cerita itu banyak diduplikasi sama film-film FTV di Indonesia.
Tapi di balik sebuah harapan pasti ada alasan yang menguatkan, kan?
Ini secuil cerita tentang masa lalu.
Sekitar 15 tahun yang lalu aku masuk TK, umurku waktu itu sekitar empat tahun dan itulah waktu pertama ketemu dengan seorang anak laki-laki bernama Eriz.
Namanya anak TK kan masih polos-polosnya, waktu itu aku selalu tertarik dengan isi box nasinya, ya tahu bacem, always, setiap hari menu yang sama, dalam jangka waktu seminggu kami duduk sebangku, dan sejak saat itu aku jadi ikut-ikutan suka sama yang namanya tahu bacem, ya sampai saat ini.
Kelas satu, kelas dua, kami masih satu kelas.
Dan sejauh mana tepatnya keakraban kita waktu itu jelas terlalu sulit buat mengingat dan mendefinisikannya.
Kenaikan kelas tiga, waktu itu dia bilang mau pindah ke Jakarta nyusul ayahnya, entahlah namanya anak SD kadang masih suka ngaco kalau ngomong, waktu itu aku nggak langsung percaya.
Tapi waktu penerimaan rapor tiba, sehari sebelum libur kenaikan kelas, dia pamit pindah dan mengulungkan secuil kertas berisi alamat dan nomor telepon.
Waktu itu aku jelas speachless dan nggak bisa komentar apa-apa, bahkan sekedar ngucapin selamat jalan atau hati-hati di jalanpun enggak.
Tapi satu yang nggak bisa dibohongi, waktu itu anak kecil berumur delapan tahun yang berambut dora lengkap dengan poninya itu cuma bisa menangis tanpa alasan, yah kehilangan mungkin.
Tapi Tuhan selalu punya cara, tujuh tahun kemudian ternyata Pakdheku dan Buleknya Eriz menikah.
Dari situ, sedikit demi sedikit seperti ada celah yang semakin lebar.
Dari Buleknya Eriz akhirnya aku mendapatkan nomor Hpnya.
Sekedar basa-basi waktu itu, lewat sms ternyata dia masih inget aku.
Tapi lagi-lagi ada aja halangan, nomor HPku keblokir dan yah terpaksa aku kehilangan semua kontak termasuk nomor HPnya.
Tapi lagi-lagi ada jalan, facebook, ya, aku berhasil nemuin dia lagi lewat Facebook.
Kami cerita banyak waktu itu, dan ternyata kami masing masing sedang menjalin hubungan. Sebenarnya bukan itu masalahnya, kami baik-baik saja.
Tapi nasip kami yang sama, alasan hubunganku dengan seseorang waktu itu ternyata sama dengan apa yang terjadi sama Eriz.
Dari situ, mungkin karena merasa senasip atau karena kami bisa saling menguatkan kami jadi merasa dekat satu sama lain (tapi entahlah bisa jadi ini hanya sepihak dariku, tapi aku merasa begitu)
Terkadang ada rasa rindu yang tiba-tiba muncul tanpa alasan atau rasa nggak jelas yang nggak bisa di definisikan.
Konyol untuk diingat, waktu itu dia bilang:
"Ka, aku sayang sama kamu. Sejak kelas dua SD."
Bah, siapa coba yang nggak ketawa, anak kelas dua SD jaman dulu mah mana ngerti sayang-sayang begituan. Orang aku masih inget jaman dulu aja aku diceng-cengin pacar-pacar gitu aja mewek.
Tapi rasa sayang itu nggak bisa dianalogikan dengan logika.
Sebenernya aku juga merasakan hal yang sama, hanya saja aku nggak tahu itu rasa sayang yang sebenarnya atau rasa sayang karena kerinduan sama sahabat lama. Bahkan sampai hari ini aku nggak punya keberanian untuk menelusurinya lebih jauh.
Lulus SMA aku pindah ke Tangerang, setelah beberapa rencana yang gagal buat ketemuan sama Eriz akhirnya Senin 5 Agustus 2013 kami ketemu di mall karawaci Tangerang.
Banyak yang berubah.
Ya terang saja, waktu selama hampir dua belas tahun tentunya bukan waktu yang singkat untuk merubah segala sesuatu.
Penilaian pertama dari yang aku lihat, jauh lebih dewasa, jelas, umur yang hampir kepala dua tentunya nggak bisa dibandingkan lagi dengan anak SD kelas dua.
Lepas dari itu semua, aku hanya merasa beruntung dan bersyukur dipertemukan kembali dengan 'sahabat yang hilang'.
Thanks God, for my first met in second chance with my old friend :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar