Bart Simpson Fransiska Andriani: Jangan Takut, untuk Mencintai :)

Sabtu, 14 Juni 2014

Jangan Takut, untuk Mencintai :)






Pernahkah Anda mencintai seseorang?
Pernahkah Anda mencintai seseorang dengan perasaan yang sangat dalam?
Pernahkah Anda mencintai seseorang dengan perasaan yang sangat dalam dan dengan waktu yang sangat lama?
Pernahkah Anda mencintai seseorang dengan perasaan yang sangat dalam dan dengan waktu yang sangat lama tanpa orang itu mengetahui perasaan Anda terhadapnya?
Seperti apa rasanya?
Seperti apa rasanya mencintai tanpa balasan atau tanpa respon berarti dari orang yang Anda cintai ?
Sakit? Lalu, lebih sakit yang mana, mencintai dengan diam atau mencintai dengan pengungkapan tetapi mengalami penolakan?
Ya, mungkin sama sakitnya. Jadi beruntunglah Anda yang memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan Anda terutama jika perasaan Anda terbalaskan. Dengan demikian cinta itu terlihat semakin nyata.
Kalau begitu, apakah cinta yang tidak terungkapkan itu adalah cinta yang tidak  nyata? Pandangan orang menurut perspektifnya masing-masing tentu berbeda-beda. Seperti kalimat “Kasih tanpa perbuatan adalah mati”. Perbuatan selalu identik sebagai hal-hal nyata yang konkrit dan kasat mata. Kasih ditunjukkan dengan perbuatan. Ketika kita mencintai seseorang, tentunya untuk menunjukkannya dengan perbuatan nyata, seperti memberinya perhatian lebih, menjadi orang pertama yang selalu ada di sisinya terutama saat dia membutuhkan, selalu ada dikala dia susah maupun senang.
Namun bagaimana jika orang yang kita cintai berada jauh dari kita, jangankan untuk selalu ada disaat-saat sulitnya, jangankan untuk menjadi sepenggal bagian dari kebahagiaannya, untuk memberi ia perhatian lebih pun terkadang kita tidak tahu kapan saat yang tepat. Lalu, bagaimana jika kita tak pernah ada di sisinya, terutama di masa-masa sulitnya? Lalu bagaimana jika kita tak pernah secara langsung memberi perhatian lebih? Apakah benar kita masih mencintainya?
Tanyakan kembali hati Anda dengan sungguh-sungguh. Ketika kasih itu selalu memberi, apa yang telah Anda berikan kepadanya? Seorang yang benar-benar mengasihi, mencintai orang yang ia cintai bahkan rela memberikan apa saja yang ia miliki, berkorban seberat apapun buat orang yang ia cintai, bahkan jika mungkin ia merelakan nyawanya sendiri demi orang yang ia cintai.
Lalu apa yang dapat diperbuat oleh Anda jika Anda tetap mencintai dalam diam, atau hanya mampu mencintai dalam diam?
Segala hal tentang cinta selalu terlihat luar biasa, perbuatan dan pengorbanan yang dilakukan atas daar cinta itu selalu tampak luar biasa. Namun, ada satu hal yang membuat semua itu sia-sia saja akhirnya. Perbuatan dan pengorbanan sehebat apapun tak akan ada artinya jika tidak didasari dengan satu hal, yaitu ketulusan.
Jangan sekalipun berpikir, ketika kita tidak memiliki kesempatan atau keberanian mengungkapkan perasaan kita lewat kata-kata atau perbuatan kita, berarti gagal mencintainya. Atau juga ketika kita tidak bisa selalu ada di sisinya berarti itu artinya kita tidak mencintainya.

Doa adalah ketulusan yang sejati. Doa adalah wujud ungkapan cinta yang tak kasat mata.
Doa adalah satu-satunya hal yang dapat menembus jarak, ruang dan waktu … bahkan kemustahilan.
Doa yang tulus adalah ungkapan kasih yang begitu tulus dan tak terbayar dengan apapun.
Ketika Anda berharap dapat berada di sisinya, dekat dengannya namun tidak mungkin… mintalah Tuhan menggantikan-Mu untuk dekat dengannya dan menjaganya.
Ketika Anda tidak memiliki keberanian untuk mengirim pesan mengucapkan selamat pagi… berdoalah agar kiranya Tuhan memberinya pagi dan hari yang indah buatnya.
Ketika ia mengalami kesulitan, kita berharap dapat menolongnya, membantunya melewati kesulitan hidupnya namun kita terbatas ruang dan waktu... berdoalah buat dia, mintalah Tuhan untuk menjadi penolong di masa-masa sulitnya dan Juru Selamat baginya.
Ketika ia mengalami kesesakan dan pergumulan hidup, pasti Anda berharap Anda dapat memberikan pundak Anda sebagai tempat ia bersandar, namun terkadang hal-hal tertentu membuat itu tidak mungkin… namun berdoalah, mohonlah Tuhan untuk membimbingnya, mintalah Tuhan untuk memberikan kelegaan dan damai di dalam hari harinya.
Ketika ia mendapatkan kebahagiaan, tentunya Anda ingin menjadi orang pertama yang memberinya pelukan dan turut merasakan kebahagiaannya. Namun adakalanya ruang dan waktu membatasi Anda untuk itu. Maka, berdoalah …mintalah Tuhan untuk memberikan karunia damai sejahtera dalam kehidupannya, beryukurlah pada Tuhan buat kebahagiaannya dengan demikian kamu sudah menjadi bagian dari kebahagiaannya.
Mungkin memang kita tidak bisa menjadi bagian nyata dalam kehidupannya sehari-hari, namun percayalah bahwa jika kita berdoa untuknya Tuhanlah yang akan menggantikan kita di sisinya setiap hari, bahkan lebih dari yang sebenarnya kita mampu lakukan untuknya. Percayalah bahwa sekalipun cinta kita dalam perbuatan nyata mungkin tidak dapat terealisasikan secara langsung terhadapnya, namun Tuhan pasti mengirim tangan-tangan orang-orang baik yang berada di sekelilingnya untuk menyampaikan kasih kita untuknya, yang akan menolong dan membantunya di saat-saat sulitnya.
Mengenai cinta yang takut akan penolakan? Hanya saja cinta sejati tidak kenal mundur setelah penolakan atau bahkan takut mengungkapkan karena takut pada penolakan. Yah, memang penolakan itu selalu menyakitkan. Seperti apapun bentuk penolakan itu entah penolakan secara halus maupun penolakan secara kasar. Sekalipun telah mengalami penolakan, kasih yang tak terbalas atau bahkan di tinggalakan. Ada saat dimana kita merasa sudah saatnya kita menyerah. Namun terkadang di hati kecil kita masih ada secercah harapan yang memberanikan diri untuk tumbuh. Harapan untuk bertahan tetap mencintainya. Harapan untuk tetap berlanjut mengasihinya.
Semua orang pasti mengerti, bagaimana rasanya cinta ingin memiliki. Terkadang ungkapan bahwa cinta tak harus memiliki terkesan hanya sekedar bualan orang-orang yang cintanya tak terbalaskan. Namun seperti apa cinta sejati yang sebenarnya? Seperi apa cinta yang tulus sesungguhnya? Ketika hanya kita sebagai pihak yang terus mengasihi, keitika menjadi pihak yang hanya terus memberi tanpa menerima. Pasti kita akan sampai pada titik dimana semua hal yang telah kita lakukan terlihat sia-sia. Itu yang sering orang katakana mencintai sebelah tangan. Hal yang manusiawi  jika ketika kita mencintai seseorang dan disertai dengan naluri ingin memilikinya. Namun mencintai buakan sesederahana ingin memiliki, atau memacari. Mencintai secara dewasa adalah mencintai dengan berani terluka ketika cintanya tidak terbalaskan, berani mencintai dan member walaupun hanya sepihak. Sering kali kita berdoa agar Tuhan menumbuhkan cinta yang sama dihati orang yang kita cintai. Ya, memang jika orang yang kita cintai merasakan hal yang sama dan dapat saling mencintai akan terlihat sangat indah. Hanya saja terkadang kenyataannya tidak seindah itu. Terkadang Tuhan hanya menanamkan cinta sepihak di hati kita saja, terkadang doa kita untuk mendapatkan cintanya juga tidak kunjung terjawab, lalu kita akan berspekulasi bahwa ”dia bukan jodohku” , kamudian kita akan menyuruh diri menyerah dan menanamkan argumen bahwa “diluar sana masih banyak yang lebih baik dari dia, yang jauh lebih layak mendapatkan cintaku, ketimbang dia yang mengabaikan aku.” Namun menyangkal diri tentang perasaan yang sebenarnya itu tidak semudah menggantinya dengan orang lain di hati kita. Masalah kita bisa atau tidak bisa memilikinya, itu bukan urusan kita tetapi Tuhan sudah mengatur rancangan yang baik buat hidup kita. Selagi kita diberi kesempatan untuk merasakan kasih untuknya, alangkah baiknya jika kita menyalurkannya dengan baik. Setidaknya untuk belajar tentang ketulusan, tentang bagaimana mencintai tanpa pamrih. Tuhan menanamkan cinta dihati kita untuknya tentu bukan tanpa alasan. Seperti jawaban doa, Ya-atau-Tunggu-atau-Tidak itu hanya soal bagaimana kita tetap taat, bertekun dan bersabar didalam-Nya.
Percayalah, bahwa sekalipun hanya lewat doa, kasih Anda untuknya tetaplah kasih yang sesungguhnya.
“Berserahlah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui.”
Yeremia 33:3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar