Selamat dini hari.
Hari yang masih belum bisa diterjemahkan karena terselimuti gelap, sunyi dan dingin. Awal hari dimana sang suryapun masih enggan merangkak ke tahtanya.
Hari yang dimulai dengan cukup indah di penghujung Oktober.
Di sela-sela lagu-lagu yang biasa didengar untuk mengulas balik masa lalu, ya, lagu yang kuputar random sambil mengiringi tombol-tombol keybord leptop merah tersayang yang masih setia mengejar deadline paper, nada-nada itu mengingatkanku pada seseorang yang dulu setiap penghujung oktober pernah berbagi kebahagiannya denganku.
aku meraih ponselku yang ku letakkan tak jauh dariku, segera dengan khatam jariku mengetik nickname kontak seseorang yang tentunya aku hafal diluar kepala. Dua kali deringan aku langsung mendengar jawaban. Tanpa basa-basi, lidahku yang agak kaku karena lama tak bercakap langsung mengutarakan selamat ulang tahun yang di jawab renyah dengan tawa oleh sesorang di seberang sana. Alibi macam apa yang bisa kubuat untuk menjawab pertanyaan mengapa aku masih ingat? Ingat atau lupa di keningku bukan sebuah perbedaan yang berarti. Aku ingat tanpa pernah aku berusaha mengingat, dan sekeras apa aku coba melupakan aku tak akan pernah lupa karena aku bahkan tak pernah berusaha sedikitpun untuk mengingat.
Lepas dari Oktober-oktober yang sudah lampau, Oktober ini sudah seharusnya tak sama. Ya, bicara soal ulang tahun tentunya tak akan lepas dari hakikat pertambahan usia, yaitu kedewasaan.
Bagaimana proses seseorang menjadi berarti atau tidak berarti di dalam kehidupan kita, adalah bagaimana ia dan kita berproses dalam waktu dan keadaan yang sama.
Terkadang dalam sebuah jalinan relasi kita merasa hanya perlu mengingat tentang bagaimana cara seseorang pergi dari kehidupan kita, apakah salah?
Tidak salah karena sistem dalam otak kita memang bekerja cenderung untuk mengingat peristiwa-peristiwa terdekat dengan aktu sekarang, terutama peristiwa yang menimbulkan perasaan negatif atau yang cenderung mengarah kepada trauma. Tapi hidup memang selalu berlaku adil untuk orang-orang yang mau menyadarinya. Yah, antara logika dengan naluri memang sering kali bersebrangan. Lepas dari ingatan tentang bagaimana seseorang meninggalkan kita, ada satu hal indah yang sering kali luput dari jangakauan ingatan kita.
Yaitu cara bagaimana ia datang ke kehidupan kita.
Seperti quotes-quotes bijak yang biasa dikutip orang untuk status di media sosial "Tuhan menghadirkan seseorang dalam hidup kita untuk sebuah alasan."
Buat orang yang percaya, pasti paham benar bahwa rencana Tuhan seperti apapun bentuknya dalam kehidupan kita selalu indah pada masa-Nya.
Tapi terkadang rasa syukur kita pergi begitu saja karena rasa sakit sesaat, yang sebenarnya hanyalah jelmaan atau wujud lain dari keegoisan dan sifat kekanak-kanakan yang muncul karena di sisi lain kita enggan menjadi pihak yang salah dari sebuah perpisahan.
Tapi kedewasaan tentunya akan muncul seiring bertumbuhnya usia.
Akan ada saat dimana kita mengerti bagaimana semestinya kita bersyukur. Karena diperjalanan hidup kita, Tuhan pernah menghadirkan seseorang yang secara langsung atau tidak langsung membentuk kita menjadi pribadi yang dewasa. Lepaskan kepahitan-kepahitan yang hanya akan menjadi benalu yang menghambat pertumbuhan kedewasaan kepribadian kita, karena kepahitan-kepahitan itu akan bertumbuh menjadi kebencian yang mematikan jika dibiarkan bersemayam. Maafkan terlebih dahulu diri sendiri akan kesalahan-kesalahan lalu, atau keputusan-keputusan yang kita ambil yang menimbulkan penyesalan. Maafkan seseorang yang memilih pergi dengan caranya, karena kadang pergi bukan selalu sebuah keputusan. Kita hanya perlu percaya, bahwa Tuhan mempunyai waktu untuk kita belajar bersamanya dan mungkin Tuhan menentukan waktu belajar kita bersamanya dengan batas tertentu.
Dan ingatlah bahwa dengan bersyukur hidup kita menjadi lebih mudah.
Bersyukur buat cara Tuhan menghadirkan seseorang sebagai teman belajar dalam hidup kita, dan atas waktu yang entah itu singkat atau panjang yang boleh kita lalui sebagai proses pembelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar